Showing posts with label flores. Show all posts
Showing posts with label flores. Show all posts

Wednesday, September 17, 2014

from FLORES to SUMBAWA



Been a long long time I didn’t post anything to this blog. Fyuuuhh… Okey. let me try to write down something new.

Sebenernya udah sekitar setahun yang lalu gue pindah dari pulau flores ke pulau Sumbawa. Flores yang udah ngasih gue berbagai macam pengalaman berharga. Mulai dari traveling overland Flores, pemandangan yang bener2 mirip di kalender2 bank, keramahan penduduk lokal, temen2 baru, saudara2 baru, dunia baru. Agak lebay sih emang. Tapi ya itu yang gue alami selama 5 tahun di sana.

Pertengahan tahun 2013. Banyak hal yang terjadi begitu cepat. Dan pada satu titik kejenuhan semua hal tiba2 berhenti dalam satu jentikan jari. Gue tiba2 dapet kabar mutasi ke Sumbawa Besar. Entah apa yang gue pikirin waktu itu. Seneng? Ga juga. Sedih? Juga ngga. Gue cuma berpikir bahwa semuanya ini siklus gue yang mau ga mau kudu dijalanin. Kudu diterima. Ya ngga?

Waktu itu gue ga tau apakah gue harus packing, gimana cara menuju ke sana dengan barang2 gue yang segunung. Yap! Akhirnya, buka map tentang pulau Sumbawa. Ga terlalu menyedihkan sih tempatnya. Mungkin karena gue udah terlanjur duluan kedapetan kota Maumere pas awal penempatan. Dengan kontur alam yang lebih bergunung2 dan berjurang2 daripada Sumbawa hahahaha…

Singkat cerita, gue akhirnya menginjakkan kaki di Sumbawa Besar. Kota kecil di bagian barat pulau Sumbawa. Kondisi kotanya hampir sama seperti kota kelahiran gue, Magetan. Bedanya cuma di Sumbawa semua orang pake bahasa Sumbawa, sedangkan di Magetan pake bahasa Jawa :p

Awalnya ekspektasi gue ga terlalu tinggi sih selama di sini (Sumbawa, red), tapi makin ke sini ternyata banyak hal yang bisa di eksplore di pulau Sumbawa. Mulai dari adat istiadat, makanan khas, budaya, alam, dan keramahannya. Dari mana dulu gue harus mulai….

Wednesday, January 4, 2012

Murusobe Waterfall, Maumere, NTT

Tak terasa tahun 2011 akan berakhir. Tidak mau ketinggalan, kami pun ingin merayakannya dengan mengadakan trip ke salah satu spot yang belum pernah kami kunjungi. Dan bahkan mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat umum.
Setelah googling kami menemukan salah satu blog tentang Maumere. Di blog tersebut terdapat daftar beberapa spot di Maumere yang belum banyak diketahui orang. Salah satunya adalah air terjun Murusobe atau air terjun kembar.
Excited! Selanjutnya kami langsung mencari info tentang air terjun tersebut. Akses jalan, cara menuju ke sana, dan apa saja yang kemungkinan diperlukan untuk pergi ke sana. Memang sedikit sekali info yang kami dapatkan, karena mayoritas penduduk Maumere sendiri belum pernah ke sana. Dan inti dari info yang kami dapatkan adalah untuk menuju ke sana kami harus trekking sekitar 3 - 4 jam. HUWOW! Oke, kami pun berangkat dengan modal nekad.
Kami berangkat dari kota Maumere pukul 09.00 WITA. Perjalanan ke desa Loke (pemberhentian pertama) sekitar 1 jam. Nah, mulai dari desa Loke inilah kami harus trekking sekitar 3 - 4 jam menuju air terjun Murusobe tersebut. Kebetulan sekali saat itu ada beberapa masyarakat desa Poma (tempat dimana air terjun Murusobe itu berada) yang baru datang dari kota Maumere. Kami pun trekking bersama hehe..
Tanjakkan, jalan licin berlumpur karena hujan, dan kabut pekat menyertai trekking kami. 3 jam kemudian kami sampai di desa Poma. Rumah-rumah bambu beratapkan seng dan daun rumbia berjajar di sepanjang jalan. Hanya ada beberapa rumah. Tapi mereka sangat ramah. Kebetulan(lagi) saat itu adalah malam tahun baru, jadi masyarakat setempat sedang berkumpul untuk merayakannya. Gema musik khas Maumere, babi guling, moke, tenda, masyarakat tua-muda, semua berkumpul. Sedikit GR sih, karena kami mengira kedatangan kami disambut dengan gegap gempita haha..
Dari desa Poma kami masih harus trekking menyusuri sungai untuk dapat mencapai air terjun Murusobe. Selama perjalanan kami harus waspada, karena banyak lintah yang siap hinggap di tubuh kami. Untung saya bawa minyak kayu putih, mujarab untuk melepas lintah yang telah hinggap di tubuh, Tinggal tuang di tubuh lintah, maka secara otomatis lintah itu langsung lepas dari tubuh.
Satu jam kemudian, setelah berjibaku dengan lintah akhirnya kami sampai juga di air terjun Murusobe. Woohhooo..

Sedikit tips : Menurut pengalaman, apabila lintah sudah menempel di tubuh jangan langsung dicabut. Karena kait mulut lintah itu akan menyobek kulit.




Pangabatan Island (part 2)

Kesekiankalinya kami adakan trip ke pulau Pangabatan dan pulau Babi. Dan kesekiankalinya pula kami takjub dengan keindahannya. Pantai tenang dan pasir putih terhampar, membuat kami semakin betah untuk bermanja-manja di sana.
























Sunday, August 21, 2011

MERAH dalam PUTIH nan suci

Tak terasa sudah 4 kali saya merasakan Ramadhan di Maumere ini. Salah satu kota di timur indonesia yang sedikit banyak telah mengajari saya, bagaimana kehidupan jauh dari keluarga. Meskipun mayoritas penduduk Maumere adalah non muslim, tetapi bulan Ramadhan di sini berjalan seperti layaknya bulan Ramadhan di kota-kota di pulau jawa pada umumnya. Mereka, penduduk non muslim, tetap menjaga dan menghormati para penduduk muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Mereka semua hidup berdampingan satu sama lain.

Ramadhan kali ini tidak terlalu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kami umat muslim di sini melaksanakan sahur, ibadah puasa, dan sholat tarawih seperti biasa. Yang membedakan dengan tahun-tahun sebelumnya adalah Ramadhan kali ini bertepatan dengan bulan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gegap gempita terdengar dari seluruh penjuru kota. Bendera merah putih berkibar dengan kokohnya. Semangat perjuangan kembali dikobarkan melalui berbagai kegiatan, antara lain upacara bendera, lomba baris berbaris, karnaval, sampai perlombaan-perlombaan yang diikuti oleh seluruh masyarakat Maumere pada umumnya.

Bagi saya sendiri, Ramadhan kali ini sedikit terasa lebih greget. Kenapa? Karena terdapat dua hal yang tampak berbeda dan dilakukan di waktu yang sama untuk menuju satu tujuan yang sama, yaitu kemenangan. Merdeka, baik secara fisik dan bathin. Merdeka surgawi dan duniawi. Ya entahlah. Kalau berbicara masalah surgawi, saya memang belum termasuk dalam kelasnya. Tetapi pada intinya untuk mencapai kemerdekaan, kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Introspeksi terhadap diri untuk lebih disiplin, dewasa, dan konsisten. 3 hal yang menurut saya sangat diperlukan untuk menjadi orang bijaksana yang bertanggung jawab, yang patut menjadi teladan untuk orang yang ada di sekitarnya.

Sunday, August 14, 2011

GEMULAI TEGAS TUJUHBELASAN

Derap langkah seirama terdengar di siang yang terik itu. Bunyi peluit bersahutan diiringi aba-aba para pemimpin barisan menambah riuh suasana. Warna merah dan putih mendominasi.

Yup, Agustus. Bulan kemerdekaan Indonesia telah tiba. Gema merdeka berkumandang dari segala penjuru pulau negara kepulauan, Indonesia. Besar kecil, tua muda, semua ikut serta merayakannya. Begitu juga di sini, Maumere. Salah satu kebupaten di Nusa Tenggara Timur, di sisi timur Indonesia.

Banyak acara dihelat di kota ini. Antara lain lomba baris berbaris yang diikuti oleh seluruh kelompok masyarakat di Maumere. Mulai dari instansi, sekolah, yayasan, sampai kelompok masyarakat lainnya. Dalam perlombaan ini para peserta dituntut untuk kompak, tegas, dan selaras. Rute telah ditentukan oleh panitia.

Tak henti-hentinya sorak sorai penonton, teriakan penyemangat, riuh tepuk tangan, bahkan gurauan ringan antar penonton ikut meramaikan acara tersebut. Dan pada saat acara berlangsung, perhatian kami tertuju ke salah satu peserta yang ikut dalam perlombaan itu. Derap langkah ‘gagah-jelita’ dan aba-aba ‘tegas-gemulai’ mengundang tawa riuh penonton. Mereka adalah kelompok barisan PERWAKAS (Persatuan Waria Kabupaten Sikka, pen). Tak mau kalah dengan kelompok barisan peserta lain, dengan dandanan hits mulai dari make up, accesoris, tatanan rambut, sampai dengan busana merah putih yang selaras menunjukkan kekompakan barisan mereka. Keseriusan tampak di wajah mereka. Yang menandakan bahwa mereka bukan hanya sekedar peserta penggembira yang asal-asalan di suatu acara seperti yang sering kita jumpai pada umumnya.

Terlepas mengenai masalah transgender dan segala macam tetek bengeknya, hal ini membuat saya sempat berpikir, mereka yang mungkin hanya “komunitas kecil” di masyarakat saja berani menunjukkan keseriusan dan komitmen terhadap kecintaan mereka akan NKRI (ya walaupun cuma sekedar baris berbaris). Lalu apa kabar dengan “para penguasa” yang selama ini terkesan hanya sibuk dengan tingkah dan kepentingan mereka belaka? Semoga mereka tidak kalah dengan para “kominutas kecil” ini. Semoga mereka serius dan berani berkomitmen di depan mata Sang Garuda dalam mempertanggungjawabkan amanat rakyat yang mereka emban.


Tuesday, June 28, 2011

Ende, Kota Pengasingan Bung Karno

DI KOTA INI KUTEMUKAN
LIMA BUTIR MUTIARA,
DI BAWAH POHON SUKUN INI PULA
KURENUNGKAN NILAI-NILAI LUHUR
PANCASILA


Ende. Terletak di jantung pulau Flores. Yang merupakan kota tua dan kota pendidikan di provinsi NTT. Di sini pula Bung Karno, sang Proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia pernah diasingkan oleh Portugis.

Masih terawat dan tertata rapi rumah bekas pengasingan Bung Karno di kabupaten Ende. Meskipun terdapat beberapa bagian dari rumah pengasingan itu yang mulai terlihat rusak. Entah kenapa, aura kegigihan Bung Karno masih tetap terasa ketika kami berada di depan rumah itu. Sayang, jam berkunjung telah usai saat kami sampai. Sedikit kecewa memang, tapi tak apa. Kami masih bisa mengabadikan gambar rumah pengasingan itu dari luar.

Selepas dari sana kami menuju ke Taman Proklamasi untuk melihat pohon sukun cabang lima. Yang merupakan tempat Bung Karno merenung hingga tercetus lima butir Pancasila sebagai dasar NKRI. Di taman itu juga dibangun monumen Bung Karno, sebagai lambang bahwa Bung Karno pernah berada di situ.




Monday, June 27, 2011

Kampung Adat Bena

Sesuai petunjuk pada papan nama di sisi jalan, kami pun berbelok menuju jalan kecil. Pohon kopi di kanan-kiri jalan mulai menyambut hangat. Begitu teduh dan rimbun. Beberapa menit kemudian terlihat hamparan tanah tinggi dengan jajaran rumah kayu beratapkan daun rumbia di sisi-sisinya.

Kampung adat Bena, terletak sekitar 70 KM dari Kabupaten Bajawa. Kampung adat tua yang masih dijaga keasliannya. Jajaran rumah yang tertata rapi memanjakan mata para wisatawan yang datang berkunjung ke sana. Di pelataran tampak beberapa kubur batu, dolmen, dan batu-batu tua yang disusun rapi menyerupai sebuah komplek yang dahulu dijadikan pusat pemberkatan upacara adat penduduk setempat. Tidak hanya itu, pelataran di tengah perkampungan itu dibuat berundak. Dan di puncaknya terdapat pohon besar yang begitu rindang. Dari situ kita dapat melihat ke segala penjuru pegunungan dan lembah yang ada di sekitarnya.

Seiring waktu berjalan, puncak tanah tersebut dibuat sebuah gua maria yang merupakan tempat sembahyang penduduk setempat. Kemudian di belakangnya sengaja dibangun gazebo sebagai tempat istirahat para wisatawan yang sedang berkunjung ke Kampung adat Bena.

Selain itu kampung adat Bena juga mempunyai kerajinan khas berupa kain songket. Yang menjadi ciri khas kain songket Bena jika dibandingkan dengan kain songket flores lainnya adalah warnanya yang lebih cerah dan colorful.

Luar biasa bukan? Maka dari itu kita sebagai generasi muda harus ikut menjaga kelestarian budaya dan adat istiadat yang ada di Indonesia sebagai warisan nenek moyang. Sehingga adat istiadat tersebut tidak cepat punah dan tetap dapat dinikmati anak cucu kita di masa yang akan datang.