Showing posts with label travelling. vacancy. Show all posts
Showing posts with label travelling. vacancy. Show all posts

Wednesday, January 4, 2012

Murusobe Waterfall, Maumere, NTT

Tak terasa tahun 2011 akan berakhir. Tidak mau ketinggalan, kami pun ingin merayakannya dengan mengadakan trip ke salah satu spot yang belum pernah kami kunjungi. Dan bahkan mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat umum.
Setelah googling kami menemukan salah satu blog tentang Maumere. Di blog tersebut terdapat daftar beberapa spot di Maumere yang belum banyak diketahui orang. Salah satunya adalah air terjun Murusobe atau air terjun kembar.
Excited! Selanjutnya kami langsung mencari info tentang air terjun tersebut. Akses jalan, cara menuju ke sana, dan apa saja yang kemungkinan diperlukan untuk pergi ke sana. Memang sedikit sekali info yang kami dapatkan, karena mayoritas penduduk Maumere sendiri belum pernah ke sana. Dan inti dari info yang kami dapatkan adalah untuk menuju ke sana kami harus trekking sekitar 3 - 4 jam. HUWOW! Oke, kami pun berangkat dengan modal nekad.
Kami berangkat dari kota Maumere pukul 09.00 WITA. Perjalanan ke desa Loke (pemberhentian pertama) sekitar 1 jam. Nah, mulai dari desa Loke inilah kami harus trekking sekitar 3 - 4 jam menuju air terjun Murusobe tersebut. Kebetulan sekali saat itu ada beberapa masyarakat desa Poma (tempat dimana air terjun Murusobe itu berada) yang baru datang dari kota Maumere. Kami pun trekking bersama hehe..
Tanjakkan, jalan licin berlumpur karena hujan, dan kabut pekat menyertai trekking kami. 3 jam kemudian kami sampai di desa Poma. Rumah-rumah bambu beratapkan seng dan daun rumbia berjajar di sepanjang jalan. Hanya ada beberapa rumah. Tapi mereka sangat ramah. Kebetulan(lagi) saat itu adalah malam tahun baru, jadi masyarakat setempat sedang berkumpul untuk merayakannya. Gema musik khas Maumere, babi guling, moke, tenda, masyarakat tua-muda, semua berkumpul. Sedikit GR sih, karena kami mengira kedatangan kami disambut dengan gegap gempita haha..
Dari desa Poma kami masih harus trekking menyusuri sungai untuk dapat mencapai air terjun Murusobe. Selama perjalanan kami harus waspada, karena banyak lintah yang siap hinggap di tubuh kami. Untung saya bawa minyak kayu putih, mujarab untuk melepas lintah yang telah hinggap di tubuh, Tinggal tuang di tubuh lintah, maka secara otomatis lintah itu langsung lepas dari tubuh.
Satu jam kemudian, setelah berjibaku dengan lintah akhirnya kami sampai juga di air terjun Murusobe. Woohhooo..

Sedikit tips : Menurut pengalaman, apabila lintah sudah menempel di tubuh jangan langsung dicabut. Karena kait mulut lintah itu akan menyobek kulit.




Tuesday, June 28, 2011

Kelenteng Jin De Yuan, Petak Sembilan, Jakarta

Tepatnya di bulan Februari 2011, saya pulang ke pulau Jawa dan main-main ke Jakarta. Awalnya saya hanya diberitahu teman mengenai keunikan daerah Petak Sembilan. Di sana kental dengan budaya tiong hoa. Dari makanan, barang dagangan yang dijual, rumah-rumah kuno, dan kelenteng. Hmmm..kedengarannya sangat menarik, melihat sisi lain dari kota Jakarta.

Petak Sembilan terletak di daerah Glodog. Selepas makan siang di Gang Kelinci, saya bersama Tantah dan Sisir naik bajaj ke Petak Sembilan. Karena bajaj tidak diperbolehkan melintas di jalan protokol glodog, jadi berputar-putarlah kami bertiga naik bajaj. Keluar masuk gang-gang sempit, melewati polisi tidur yang yaa..lumayan banyaklah, kemudian berpapasan dengan kendaraan lain di jalan sempit. Benar-benar perjalanan yang sangat panjang dan berkesan. Setelah berputar-putar kami diturunkan di Petak Sembilan tepatnya di depan Kelenteng Jin De Yuan.

Warna merah mendominasi. Hilir mudik orang-orang yang sedang bersembahyang, membuat tempat itu tampak sangat ramai. Saat masuk ke Kelenteng tersebut kami disambut oleh petugas kelenteng, "Nggak apa-apa mas, masuk aja! Boleh untuk umum kok."

Bagi saya orang jawa tulen pemandangan di dalam kelenteng membuat saya terbengong-bengong. Banyak sekali lilin-lilin besar, patung-patung budha, dupa, dan kepul asap yang tebal. Langsung saja saya main jeprat-jepret sampai ke bagian dalam kelenteng.

Puas mengambil gambar di dalam kelenteng, kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sepanjang gang Petak Sembilan. Wah, banyak toko-toko yang menjual alat-alat sembahyang. Mirip sekali seperti di film-film Cina di TV. Ada uang kertas, mobil kertas, dan lilin-lilin dengan berbagai macam ukuran.

Tak lama kemudian kami mencium aroma masakan yang khas, yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. WOW! Ternyata bebek peking, jeroan babi sudah bergelantungan di sepanjang gang. Ada juga pi-oh atau daging penyu, yang dimasak mirip siomay. Kemudian permen susu dengan berbagai macam bentuk dan merk. Wah, perjalanan kali itu memang benar-benar menarik.







Monday, June 13, 2011

Bajawa, Kota beku di Flores

Barisan pohon berlari dalam gelap di sepanjang jalan sempit berliku. Angin menari dari sela-sela dedaunan menyapa kami dengan ramahnya. Sesekali kami merubah posisi duduk kami di dalam mobil karena kedinginan. Tak terasa kami telah memasuki kabupaten Bajawa.

Bajawa, sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh jajaran perbukitan di tengah jantung pulau Flores. Sekilas terlihat sunyi di malam hari. Mungkin dikarenakan udara dingin yang begitu menggigit, sehingga para penduduk enggan untuk menapakkan kaki mereka di sepanjang jalan kota ini. Jika kami lihat dengan seksama, nampak kehangatan keluarga yang sedang berkumpul di bawah atap terang bohlam di tiap rumah. Hmm...benar-benar surga kecil yang saya idamkan selama berada di Flores ini hehe..

Pagi menjelang. Tampak langit biru diselimuti awan tipis menambah indah kota kecil ini. Geliat kota mulai bangkit. Rutinitas masyarakat kota pada umumnya. Iseng-iseng saya mencoba membuka mulut di luar ruangan dan “HAH!” Woww..keluar asap dari mulut saya hehe.. Yup! Meskipun terik matahari pagi yang begitu menyengat, udara dingin tetap menusuk hingga ke tulang. Menurut masyarakat setempat saat itu bukanlah “puncak dingin” di Bajawa. Kemungkinan “puncak dingin” itu terjadi di bulan Juli-Agustus. Hmmm..sedingin apa ya? Benar-benar tidak bisa dibayangkan, bukan?